Ikhtiar UIN Bukittinggi Rajut Ukhuwah dan Syiar Pendidikan di Thailand Selatan

BUKITTINGGI — Setelah terhenti sejak pasca pandemi covid-19, Universitas Islam Negeri (UIN) Sjech M. Djamil Djambek Bukittinggi mengaktivasi kembali program pengabdian globalnya dengan mengirimkan sembilan mahasiswa terpilih dari Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan (FTIK).

Para mahasiswa ini mengemban misi ganda: menjalani Kuliah Kerja Nyata (KKN) sekaligus Program Praktek Lapangan (PPL) integratif di wilayah Thailand Selatan. Program ini dijadwalkan berlangsung dari 8 Juli hingga 4 Agustus 2026.
Langkah strategis ini bukan sekadar rutinitas akademik demi memenuhi beban kurikulum.

Bagi UIN Bukittinggi, ini adalah ikhtiar taktis untuk mempercepat internasionalisasi lembaga. Lebih dari itu, program kolaboratif ini membawa misi mulia: merajut kembali simpul-simpul kultural yang sempat renggang serta membangkitkan kembali semangat kolektif persaudaraan (ukhuwah) bangsa Melayu di Asia Tenggara.

Sentuhan Pedagogis dan Sosial Keagamaan

Selama hampir sebulan penuh, para mahasiswa akan mendedikasikan ilmu mereka ke dalam dua ranah substansial.
(1) Sektor Pengabdian Masyarakat: Mereka akan membaur dengan komunitas Muslim di Hat Yai, Songkhla, Thailand Selatan. Fokusnya adalah mengidentifikasi, mendekati, dan mengurai berbagai problematika sosial keagamaan yang dihadapi warga setempat.
(2) Sektor Pedagogis: Mereka akan mendedikasikan diri sebagai tenaga pendidik profesional di Songserm Sasana Vitaya School, sebuah lembaga pendidikan di sana.
Sembilan mahasiswa yang diberangkatkan merupakan talenta-talenta terbaik yang telah lolos proses filtrasi ketat.

Komposisi tim ini dirancang secara matang, terdiri atas lima mahasiswa program studi Bahasa Inggris, satu mahasiswa Bahasa Arab, dan tiga mahasiswa Bimbingan Konseling.

“Kombinasi multidisiplin ini sengaja dibentuk agar program intervensi sosial dan pendidikan di lokasi sasaran dapat berjalan secara komprehensif. Kita ingin menyentuh aspek penguatan linguistik sekaligus memberikan pendampingan psikologis bagi para siswa di sana,” ujar Dekan FTIK UIN Bukittinggi, Dr. Junaidi.

Kebangkitan Syiar Pascapandemi

Kepala Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat (LPPM) UIN Bukittinggi, Dr. Muhiddinur Kamal, mengungkapkan bahwa program ini menjadi tonggak penting kebangkitan mobilitas akademik internasional kampus. Sejak badai pandemi Covid-19 melanda beberapa tahun silam, skema KKN internasional yang biasanya disokong pemerintah pusat sempat mengalami mati suri.

“Melihat kondisi tersebut, UIN Bukittinggi mengambil inisiatif mandiri untuk menyalakan kembali suluh KKN internasional ini. Alhamdulillah, respons dan antusiasme mahasiswa luar biasa tinggi. Mereka memang membutuhkan ruang aktualisasi yang berskala global,” tutur Muhiddinur.

Menatap Lanskap Global, Menjaga Akar Identitas

Harapan besar pun digantungkan oleh jajaran rektorat. Rektor UIN Bukittinggi, Prof. Dr. Silfia Hanani, melalui Wakil Rektor Urusan Akademik dan Pengembangan Kelembagaan, Dr. Afrinaldi, menegaskan bahwa urgensi program ini terletak pada pembentukan karakter mahasiswa. Kampus ingin melahirkan generasi yang adaptif terhadap dinamika global, namun tetap kokoh memegang akar identitas keislaman dan regionalnya.

“Pengalaman internasional di Thailand Selatan akan mengasah kepekaan geopolitik dan kultural mahasiswa. Di sana, mereka tidak hanya mengajar, tetapi juga belajar membaca lanskap masyarakat Melayu-Patani yang unik,” urai Afrinaldi saat melepas secara resmi peserta KKN internasional, Selasa (7/7/2026).

Ia menambahkan, program ini merupakan investasi jangka panjang untuk melahirkan akademisi dan praktisi masa depan. Generasi yang memiliki ketajaman berpikir global, namun tetap membumi dan peduli pada umat.

Dengan dibimbing Kepala Pusat Pengabdian Masyarakat UIN Bukittinggi, Dr. Arjoni KKN-PPL integratif ini UIN Bukittinggi mengirimkan pesan kuat kepada publik bahwa institusi pendidikan tinggi Islam dari daerah mampu mengambil peran sentral dan aktif dalam diplomasi budaya, bahasa, serta pendidikan di level regional ASEAN.()