Serang – Menteri Agama Republik Indonesia, Prof. Dr. KH. Nasaruddin Umar, MA., secara resmi melepas 240 mahasiswa peserta Kuliah Kerja Nyata (KKN) Nusantara VI Tahun 2026 pada Rabu (15/6/2026) di Gedung Training Center Kampus II UIN Sultan Maulana Hasanuddin (SMH) Banten, Kecamatan Curug, Kota Serang. Mahasiswa peserta berasal dari 42 Perguruan Tinggi Keagamaan Islam Negeri (PTKIN), Perguruan Tinggi Keagamaan Islam Swasta (PTKIS), dan Perguruan Tinggi Keagamaan (PTK) dari berbagai daerah di Indonesia yang akan melaksanakan pengabdian masyarakat di Kabupaten Lebak, Provinsi Banten hingga 23 Agustus 2026.
Kegiatan pelepasan dihadiri oleh Menteri Agama RI beserta jajaran, Staf Khusus Kementerian Agama, para rektor PTKIN, para wakil rektor, Ketua Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM), Kepala Pusat Pengabdian kepada Masyarakat (PKM), dosen pendamping, serta seluruh peserta KKN Nusantara VI.
Dalam arahannya, Menteri Agama RI, Prof. Dr. KH. Nasaruddin Umar, MA, menegaskan bahwa mahasiswa KKN harus mampu menghadirkan manfaat nyata bagi masyarakat melalui pengabdian yang dilandasi nilai-nilai keislaman, kemanusiaan, dan kepedulian terhadap lingkungan.
Menurutnya, mahasiswa tidak hanya bertugas menjalankan program kerja, tetapi juga menjadi teladan di tengah masyarakat. Oleh karena itu, setiap peserta diharapkan memiliki delapan karakter utama yang disingkat Istiqamah, yaitu ikhlas, sabar, tawaduk, ihsan, qanaah, akhlak, muruah, dan al-haya’ sebagai bekal dalam menjalankan pengabdian.
“Mahasiswa PTKIN hendaknya memiliki pandangan yang arif dalam mengamati tradisi masyarakat. Hindari benturan teori modern dengan kearifan lokal. Jadikan masyarakat Baduy sebagai ruang belajar untuk memahami bagaimana mereka menjaga kelestarian alam dengan penuh kesadaran,” pesan Menteri Agama.
Ia juga mengingatkan pentingnya menjadikan prinsip Iqra’ bismi rabbik sebagai landasan berpikir dan bertindak, yaitu belajar dengan orientasi mendekatkan diri kepada Allah SWT sekaligus menjaga bumi sebagai rumah bersama yang harus diwariskan kepada generasi mendatang.
Sementara itu, Rektor UIN Sultan Maulana Hasanuddin Banten, Prof. Dr. H. Muhammad Ishom, S.Ag., M.A., dalam laporannya menyampaikan bahwa pada tahun 2026 UIN SMH Banten mengelola sekitar 1.400 mahasiswa KKN, dengan 240 mahasiswa di antaranya merupakan peserta KKN Nusantara VI yang berasal dari berbagai perguruan tinggi keagamaan di Indonesia.
Menurutnya, dipilihnya wilayah masyarakat adat Baduy sebagai lokasi pengabdian bukan tanpa alasan. Kawasan tersebut memiliki kekayaan nilai-nilai ekoteologi yang sangat kuat dan relevan dengan tantangan pembangunan berkelanjutan saat ini.
“Kami sengaja memilih tema Merawat Ekoteologi karena masyarakat Baduy memiliki nilai-nilai ekoteologis yang luar biasa. Mahasiswa akan belajar bagaimana masyarakat Baduy menjaga kelestarian lingkungan, baik melalui pola hidup Baduy Dalam yang menolak modernisasi maupun Baduy Luar yang tetap terbuka terhadap perkembangan zaman tanpa meninggalkan nilai-nilai adat,” jelasnya.
Pada kesempatan yang sama, Kasubdit Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat Direktorat Pendidikan Tinggi Keagamaan Islam Kementerian Agama RI, Dr. Nur Kafid, M.Sc., menjelaskan bahwa pelaksanaan KKN Nusantara VI Tahun 2026 berlangsung selama kurang lebih 40 hari hingga Agustus 2026.
Ia mengatakan bahwa program tersebut berfokus pada penguatan kesadaran ekoteologi, edukasi pengelolaan sampah, serta pemberdayaan ekonomi masyarakat berbasis potensi lokal. Pelaksanaannya menggunakan pendekatan Asset Based Community Development (ABCD) dan Participatory Action Research (PAR) agar mahasiswa mampu menjadi motor penggerak lahirnya inovasi sosial yang inklusif, ramah lingkungan, dan berkelanjutan.
“Program ini diharapkan menjadi model pengabdian nasional yang mencerminkan wajah moderasi beragama, yakni harmoni hubungan manusia dengan sesama sekaligus hubungan manusia dengan alam sebagai ciptaan Tuhan,” ungkapnya.
Turut hadir mendampingi delegasi UIN Sjech M. Djamil Djambek Bukittinggi, Kepala Pusat Pengabdian kepada Masyarakat sekaligus Ketua Badan Pelaksana KKN LPPM UIN SMDD Bukittinggi, Dr. Arjoni, M.Pd., yang memberikan motivasi dan arahan kepada mahasiswa sebelum diterjunkan ke lokasi pengabdian.
Arjoni mengajak seluruh delegasi UIN SMDD Bukittinggi untuk mampu menyesuaikan diri dengan lingkungan baru serta membangun komunikasi yang baik dengan peserta dari berbagai daerah di Indonesia.
“Sebagaimana falsafah Minangkabau, dima bumi dipijak, disinan langik dijunjuang. Di mana pun kita berada, kita harus mampu beradaptasi dengan kondisi setempat, menghormati budaya masyarakat, memperluas persaudaraan, dan menghindari perbedaan yang dapat memecah kebersamaan,” pesannya.
Ia juga menegaskan bahwa mahasiswa harus mampu memberikan manfaat bagi masyarakat tanpa membedakan latar belakang suku, agama, maupun budaya.
Selain itu, Arjoni berharap mahasiswa dapat menjadikan masyarakat Baduy sebagai sumber pembelajaran mengenai pentingnya menjaga kelestarian alam melalui kearifan lokal yang diwariskan secara turun-temurun.
“Masyarakat Baduy mengajarkan kita bagaimana mencintai alam, menjaga lingkungan tetap lestari, dan memegang teguh nilai adat. Nilai ini sejalan dengan falsafah Minangkabau alam takambang jadi guru, bahwa alam merupakan sumber pembelajaran bagi kehidupan manusia,” ujarnya.
Delegasi UIN SMDD Bukittinggi yang mengikuti KKN Nusantara VI Tahun 2026 merupakan mahasiswa hasil seleksi tingkat universitas yang akan bergabung bersama peserta dari 42 perguruan tinggi keagamaan di Indonesia dalam melaksanakan pengabdian di Kabupaten Lebak, Banten.
Melalui kegiatan ini, mahasiswa diharapkan tidak hanya mengimplementasikan ilmu pengetahuan di tengah masyarakat, tetapi juga memperkuat wawasan kebangsaan, moderasi beragama, kepedulian terhadap lingkungan, serta kemampuan berkolaborasi lintas budaya sebagai bagian dari upaya membangun Indonesia yang berkelanjutan.
KKN Nusantara VI Tahun 2026 mengusung semangat pengabdian yang selaras dengan tema KKN UIN SMDD Bukittinggi, yaitu “Syiarkan Kebaikan, Lestarikan Alam, dan Bakti UIN Bukittinggi untuk Negeri.” Tema tersebut menjadi komitmen bersama dalam menghadirkan pengabdian yang berdampak bagi masyarakat melalui penguatan nilai-nilai keagamaan, pelestarian lingkungan, serta penghormatan terhadap kearifan lokal.


