Masa depan penelitian bahasa Arab di Indonesia sedang melintasi persimpangan penting. Riset akademik tidak lagi cukup hanya bergelut dalam pakem tata bahasa (nahwu-sharaf) yang kaku. Transformasi menuju integrasi teknologi dan hibriditas bahasa menjadi keniscayaan agar bahasa ini tetap relevan menjawab tantangan global yang semakin digital.
Semangat perubahan tersebut mengemuka dalam kuliah umum yang diselenggarakan Program Magister Pendidikan Bahasa Arab (MPBA) Universitas Islam Negeri (UIN) Sjech M. Djamil Djambek Bukittinggi, Selasa (12/5/2026). Forum akademik ini menjadi ruang refleksi bagi hampir 100 mahasiswa dan dosen untuk menakar sejauh mana bahasa agama ini mampu beradaptasi di era kecerdasan buatan (AI).
Jembatan hibriditas
Kepala Pusat Hubungan Internasional UIN Bukittinggi Irwandi menyampaikan, fenomena translanguaging kini menjadi realitas yang tak terelakkan. Mahasiswa dituntut mampu menavigasi teks-teks klasik (turats) Arab sembari menggunakan metodologi riset yang referensinya banyak didominasi bahasa Inggris.
“Kita tidak ingin mahasiswa sekadar menjadi peniru dalam berbahasa Inggris atau ‘fotokopi’ Timur Tengah dalam berbahasa Arab,” ujar Irwandi. Ia menawarkan konsep Hybrid Competence, yakni kompetensi sarjana yang mahir berdebat dengan logika Arab, tetapi fasih mempresentasikannya dalam retorika Inggris yang elegan.
Sebagai gambaran, efektivitas komunikasi terjadi saat mahasiswa mendiskusikan konsep gharar dari teks Arab, namun mampu menjelaskannya melalui terminologi asymmetric information dari literatur Barat. Upaya ini bukan dipandang sebagai perusakan bahasa, melainkan langkah membangun jembatan antara syariat klasik dan realitas pasar global.
Transformasi ilmiah
Pakar dari ICESCO (Islamic World Educational, Scientific and Cultural Organization) Malaysia, MD Noor bin Hussin, menekankan bahwa penelitian bahasa Arab harus berani keluar dari zona konvensional. Ia menggarisbawahi tiga poin krusial bagi peneliti muda:
Pertama, memposisikan AI sebagai mitra strategis untuk memperkuat kualitas riset, bukan sebagai ancaman. Kedua, menerapkan pendekatan multidisipliner yang menghubungkan linguistik dengan disiplin ilmu modern. Ketiga, memastikan riset memiliki kemanfaatan sosial yang nyata bagi masyarakat.
Dekan Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan (FTIK) UIN Bukittinggi Junaidi menyatakan, kolaborasi lintas negara ini bertujuan memposisikan Nusantara sebagai “pusat gravitasi baru”. Sebuah wilayah tempat bahasa Arab yang sakral, bahasa Inggris yang global, dan kekayaan kultural lokal melebur menjadi satu kekuatan akademik yang unik.
Melalui diskusi yang dimoderatori Ketua Program Studi MPBA Zubaidah ini, terselip pesan kuat: masa depan bahasa Arab tidak lagi melulu soal analisis kesalahan tata bahasa (error analysis). Fokus telah bergeser pada interaksi strategis untuk mewarnai dunia dengan gagasan keislaman yang adaptif dan moderat.()

Dr. Irwandi, M.Pd.
Kepala International Office UIN Bukittinggi


